Sejuta Senyum di Negeri Sakura

Tidak pernah sama sekali terbersit di dalam pikiran saya kalau bakal menginjakkan kaki di negeri matahari terbit ini. Membayangkan suasana ala Jepang seperti di film anime dan komik-komik yang kubaca sudah membuat diri ini tidak sabaran. 6 jam perjalanan dari Denpasar pun menjadi tidak terasa.

Bandar udara Kansai

 

1. Kyoto

Setelah melewati proses imigrasi, saya langsung naik ke dalam bus yang akan membawa saya ke kota Kyoto. Siapa yang tidak mengenal Kyoto? Sebuah kota kecil yang masih asri ditengah gempuran gedung-gedung tinggi yang tersebar di seantero Jepang. Sepanjang perjalanan di atas bus menuju Kyoto saya melihat beberapa orang yang memakai yukata. Melihat orang berpakaian tradisional di Kyoto rupanya bukan suatu hal yang langka. Mungkin inilah cara orang Kyoto untuk tetap mempertahankan budaya nya di kota bersejarah dan tradisional ini.

Kuil Buddha di depan Gion district.

Tujuan pertama saya adalah Gion district. Gion district ini adalah sebuah tempat wisata yang menyuguhkan pemukiman desa tradisional Jepang. Di depan pintu gerbang Gion district kita langsung dapat melihat kuil Buddha kuno peninggalan Jepang. Tetapi tidak ada yang berdoa di dalamnya dan hanya menjadi sasaran objek kamera para turis yang lewat saja.

Beberapa anak sekolah tampak asik makan siang taman.

Rumah-rumah tradisional Jepang tersusun rapih sangat indah menyatu dengan berbagai pohon-pohon berwarna cerah dan kolam yang terdapat di dalam area tersebut. Akan tetapi belum sempat melangkah jauh kedalam dan mengambil gambar perumahan tradisional Jepang, hujan turun dengan deras (yah padahal belum lihat geisha dan maiko secara langsung huftt). Air hujan mengalahkan semangat saya, dan saya pun akhirnya hanya mengambil sebuah foto yang memperlihatkan anak-anak sekolah jepang (mungkin sekitar SMA) sedang melakukan tamasya di Gion district dan menikmati bekal makan siangnya.

 

2. Shinsaibashi

Sebenarnya setelah dari Gion district, rute selanjutnya adalah pergi ke Fushimi Inari Shrine yang terkenal dengan ribuan gerbang warna oranye atau yang disebut getori dalam bahasa Jepang. Akan tetapi dikarenakan hujan yang tidak kunjung berhenti akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Osaka saja dan mampir di pusat perbelanjaan ternama di Osaka yaitu Shinsaibashi.

Keramaian sore hari di Shinsaibashi

 

Spot foto wajib saat ke sini nih.

Di Shinsaibashi kalian akan dimanjakan dengan ratusan toko baju maupun makanan yang tersebar di berbagai sisi. Waktu tiga jam yang saya pakai di Shinsaibashi sangatlah  tidak terasa cukup (belanja dikit tapi kelilingnya lama). Sebaiknya kalau pergi ke Shinsaibashi ini kalian berjalan menuju  ke arah papan reklame glico ini, soalnya ketika saya berjalan ke arah yang berlawanan entah mengapa suasana di toko bagian itu sepi dan tidak terlalu banyak orang sehingga saya langsung mengambil inisiatif untuk memutar langkah. Menurut saya sih barang yang dijual di sisi sebelah itu kurang menarik.

 

3. Gotemba

Gotemba adalah pusat perbelanjaan barang-barang branded yang terletak di atas bukit yang menghadap langsung ke gunung Fuji. Udara dingin tidak menyurutkan langkah saya untuk menyusuri setiap toko tanpa melewatkannya satu pun. Buat kalian yang memang doyan berbelanja, Gotenba ini sangat disarankan karena barang yang dijual pun memang branded dan harga yang dibanderol memang sesuai dengan yang di jual di mall.

Lelah berjalan menyusuri setiap toko membuat perut saya berteriak minta untuk diisi. Nampaknya udara dingin membuat perut saya menjadi lebih cepat lapar dan untungnya, food court dengan makanan yang enak-enak dan penjual cemilan-cemilan tersebar di sekitar Gotemba. Seporsi nasi kari rupanya belum membuat perut saya terisi penuh, mata ini pun tertuju kepada sebuah gerobak es krim dan tentunya menjadikannya makanan penutup yang manis di Gotemba.

Jejeran pertokoan di Gotenba dengan latar belakang Gunung Fuji.

 

Jembatan penghubung di dalam kopleks pertokoan Gotenba (sayang Gunungnya tertutup awan).

 

4. Oshino Village

Tidak salah memang Oshino Village ini ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Pemandangan desa asri tradisional khas negeri sakura ini langsung menyambut saya. Rumah tradisional beratap jerami dengan background gunung Fuji pun tampak tersebar di beberapa bagian. Berjalan tidak jauh kedalam, saya langsung melihat sebuah kolam yang berdiameter lumayan besar dengan air jernih sebening kaca.

Ada 8 buah kolam mata air yang tersebar di Oshino Village ini. Air yang jernih ini rupanya bersumber langsung dari lelehan salju gunung Fuji. Awalnya saya pikir kolam itu hanya berisi air saja sampai saya melihat ada beberapa ikan koi raksasa yang menari-nari di dalamnya. Saya yakin kalau kolam ini berada di Indonesia pasti sudah menjadi sasaran tangkap oleh orang-orang yang “bertangan gatal”. Kejernihan air kolam membuat kita dapat melihat sampai kedasarnya walaupun dengan kedalaman 8 meter. Kita pun dapat menikmati secara gratis kejernihan dan kesegaran air ini melaui water tab yang tersedia.

Seusai melihat-lihat keindahan di sekitar desa saya lalu mencoba mampir ke tempat penjualan cindera mata. Berbagai souvenir dapat kalian temukan disini mulai dari gantungan kunci hingga lotion dan minyak angin. Akan tetapi pandangan saya tertuju kepada kue-kue mochi yang terpampang manis di atas meja dagangan, mochi-mochi itu seakan akan sedang memanggil untuk dicicipi. Akhirnya saya pun luluh dengan rasa manis gurihnya mochi kacang yang cukup mahal itu.

Air kolamnya jernih banget kan?

 

Koinya gede gede cocok buat digoreng hahaha.

 

5. The Holy Mount Fuji

Jika pergi ke suatu negara dan kalian tidak pergi ke landmark nya maka bisa dikatakan bahwa perjalanan yang kalian lakukan belum bisa dikatakan sukses 100%.  Dan sudah pasti kalau ke Jepang kalian harus pergi ke gunung Fuji. Gunung yang di sakralkan oleh seluruh warga Jepang ini menyimpan sejuta keindahan di dalamnya. Mulai dari musim semi hingga musim salju, gunung Fuji selalu menyuguhkan pemandangan yang berbeda-beda. Dahulu salju putih selalu menutup bagian atas gunung Fuji, akan tetapi akibat pemanasan global yang semakin menjadi ini salju tidak akan terlihat saat musim panas tiba.

Puncak gunung Fuji yang terlihat jelas dari pos level 5.

Saat memasukan gunung Fuji dalam tujuan saya hari ini sebenarnya ada perasaan was-was, bagaimana tidak? hujan dapat turun tiba-tiba di bulan November ini. Sungguh keberuntungan nampaknya masih berpihak kepada saya. Hari itu cuaca cerah dan tidak terlalu berawan sehingga gunung Fuji tampak dengan jelas. Gunung Fuji di bagi menjadi 5 level dan kalau cuaca cerah dan mendukung seperti ini, untuk mencapai level 5 bukan menjadi suatu hambatan. Lain halnya kalau cuaca buruk seperti hujan deras, angin kencang ataupun bersalju. Biasanya, gunung Fuji hanya dibuka sampai level 3 atau 4 saja im so lucky right? hahaha. Level 5 gunung Fuji kali ini kita disuguhkan dengan pemandangan hamparan salju tipis yang melapisi tanah.

Inilah kali pertama saya melihat hamparan salju putih secara langsung dan bagaikan orang udik yang langsung menyentuhnya tanpa basa basi saat pertama kali melihatnya. Ternyata salju hanya seperti bunga es di dalam frezzer, nothing special. So buat kalian yang ingin pergi ke gunung Fuji ini pastikan bahwa cuaca cerah karena sayang dong ketika udah jauh-jauh ke gunung Fuji eh cuma bisa berhenti sampai di post 3 doang.

Meski tidak berangin tapi saya merasa cukup dingin di atas sini, padahal matahari bersinar cerah. Tak tahan berada di luar terus menerus saya pun memutuskan masuk kedalam sebuah toko oleh-oleh yang ada di level 5 ini. Melihat ramainya antrian di kasir membuat saya malas untuk membeli hingga akhirnya saya melihat sebuah biskuit cantik berbentuk gunung Fuji yang lucu dengan gula putih yang mengeras di atasnya. Saya lalu mengambil 2 box biskuit lucu itu dan ikut tenggelam dalam antrian yang panjang.

Ekspresi bahagia saat melihat salju for the first time >.<.
Pegunungan di seberang gunung Fuji tampak seperti pegunungan Himalaya.

 

6. Shibuya Crossing Street

Oke menurut saya 6 hari waktu untuk berkeliling Jepang saya pikir terlalu singkat. Sehingga, sauaya tidak dapat berlama-lama di gunung Fuji, karena masih banyak tempat yang menunggu untuk dikunjungi. Tujuan selanjutnya adalah daerah Shibuya tepatnya di kota Tokyo. Karena jarak yang cukup jauh dari gunung Fuji ke Tokyo maka transportasi yang paling murah dan masuk akal adalah Bus (kalau naik taxi = bunuh diri) .

Tibalah kita di daerah Shibuya yang terkenal dengan crossing street nya yang terkenal di seantero dunia. Sebenarnya ini hanyalah penyebrangan biasa tapi yang membuatnya berbeda adalah ini bukan penyebrangan perempatan atau pertigaan melainkan perlimaan atau pertujuhan atau bahkan perlapanan (gak tau juga sih berapa yang pasti lebih dari empat). Di Shibuya crossing street ini terdapat beberapa zebra cross yang membentang dengan cukup unik sehingga ketika lampu hijau buat pejalan kaki telah menyala maka disinilah puncak aktraksi nya.

Orang-orang akan berjalan cepat dan terlihat datang dari berbagai arah, cukup unik dan cukup membuat “kita” orang dari negara yang agak lamban dalam berjalan kaki mengalami semacam panic attack. Ratusan orang yang menyebrang secara bersamaan cukup membuat kita kebingungan untuk melangkah, salah langkah eh kita bisa-bisa nyasar ke sisi jalan yang lain dan harus menunggu lampu hijau selanjutnya. Ketika semua orang menyebrang jalan sudah tentu kalian pasti tahu kan apa yang dilakukan para turis ya kan? Yah berfoto di tengah jalan. Berfoto di tengah jalan sudah menjadi ritual wajib bagi para wisatawan tidak terkecuali saya hahaha.

Kepadatan di Shibuya crossing street.

Sounds fun huh? Pengalaman yang tidak di dapatkan di Indonesia tentunya. Kalau di Indonesia pasti akan di klakson oleh pengendara mobil dan motor belum lagi kendaraan mereka yang berhenti tepat di atas zebra cross.

Saat akan beranjak pulang dari kejauhan saya melihat eh kok ada orang rame-rame ya pada ngumpul ? apakah ada bagi sembako gratis? bukan, ternyata orang-orang pada ngantri foto di depan patung Hachiko.

Ini nih patung Hachikonya (kalau ada event tertentu biasanya di patung ini dipasangi atribut-atribut).

Siapa yang tidak mengenal sosok Hachiko sih? sosok anjing setia yang konon katanya menunggu tuan nya di stasiun kereta yang tidak kunjung datang-datang sampai akhirnya dia meninggal. Sungguh kisah yang menyentuh buat saya yang merupakan seorang dog loversBy the way sih patung ini terletak tidak jauh dari Shibuya crossing, lebih tepatnya hanya di sampingnya saja. So buat kalian yang bakal pergi ke Shibuya crossing jangan lupa buat foto ataupun sekedar melihat patung Hachiko ini ya.

7. Sensoji Temple

Dan sampailah kita di hari terakhir di Jepang. Sebenarnya pada hari terakhir ini saya juga binggung mau pergi kemana lagi tapi tiba-tiba terlintas untuk mengunjungi salah satu kuil di Jepang yaitu kuil Sensoji. Ya hitung-hitung buat sebagai pengganti rencana ke Fushimi Inari di Kyoto lalu. Sesampainya di Sensoji Temple saya merasakan nuansa Jepang yang begitu kental mulai dari warna merah, lampion raksasa, arsitektur kuil dan banyak patung-patung yang membuatku terkagum kagum. Di depan kuil juga terlihat beberapa wisatawan dan warga lokal yang sedang berdoa.

Pintu utama Sensoji Shrine.

 

Bangunan utama Sensoji Shrine.

Puas menjelajahi kuil saya pun langsung melangkahkan kaki ke Nakamise shopping street yang tepat berada di depan kuil. Jajaran kios dan toko kecil di sepanjang jalan betul-betul memanjakan mata. Jualannya pun beragam mulai dari makanan, pakaian, pernak pernik lucu khas Jepang bahkan samurai pun ada di sini. Saya pun menyempatkan diri untuk membeli beberapa oleh-oleh kecil untuk kerabat dan mencicipi beberapa makanan kecil seperti mochi yang di tusuk seperti sate kemudian ditaburi kacang tumbuk tapi saya lupa namanya (mochi sate mungkin). Suasana yang ramai hingga tampak seperti berdesak desakan serta cuaca yang dingin nampaknya tidak menyurutkan semangat belanja siapa saja menurut saya meskipun tangan sudah gemetaran (maybe karena dasarnya manusia suka belanja kali ya).

Keramaian di Nakamise Shopping Street.

 

8. Ginza

Melihat jam yang masih menunjukan pukul setengah satu siang tidak ada salahnya menurut saya kalau pergi ke salah satu pusat perbelanjaan famous di Tokyo apalagi kalau bukan Ginza. Ginza merupakan kawasan perbelanjaan kelas atas menurutku karena banyak toko-toko butik branded ternama di sepanjang jalan ini bahkan ada juga lho toko yang menjual barang second hand branded. So yang punya budget berlebih sangat disarankan buat shopping di Ginza ini, atau bagi yang hanya sekedar mau duduk-duduk menikmati suasana hiruk pikuk nya Ginza ini jangan khawatir kok karena banyak juga kafe yang tersebar di daerah ini.

Di antara banyak nya toko mahal di Ginza ini saya menemukan sebuah toko koper yang cukup tersembunyi dan tidak terlalu besar tetapi cukup ramai. Saat aku lihat semua koper dibanderol dengan harga 3800 atau 4000 JPY atau kalau di kurskan ke IDR sekitar 500 ribuan dan kopernya pun boleh dipilih mau ukuran yang segimana besarnya. Koper ONLY 500 ribuan kapan lagi nih. Tanpa pikir panjang saya pun langsung membelinya.

Salah satu sudut jalan di Ginza.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada satu hal yang perlu di ingat buat kita orang Indonesia yang terlalu sering dimanja oleh mbak/mas cleaning service, yaitu nampan kotor nya DI BAWA SENDIRI ya. Di Jepang ini kalian gak akan menemukan yang namanya habis makan terus nampan nya di bawain sama mbak/mas cleaning service nya. Meskipun pas di bandara saya menemukan ada beberapa sisa nampan kotor yang di biarkan di atas meja. Tidak bermaksud menjelekkan orang negeri sendiri sih tapi saya dapat menjamin 80% persen kalau itu orang dari Indonesia atau orang dari Cina.

Suara panggilan pesawat tujuan Tokyo – Jakarta pun telah saya dengar dan dengan sigap langsung menuju ke pintu yang telah ditentukan. Satu lagi yang oleh-oleh berkesan yang diberikan Jepang untuk saya yaitu  pemandangan spektakuler gunung Fuji dari jendela pesawatku so breathtaking view. Pemandangan gunung Fuji ini menjadi lembaran penutup yang sulit untuk dilupakan.

Gunung Fuji dari atas ketinggian.

 

Advertisements
Categories:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s