Yuk Liburan “Nakal” di Pattaya

“Sudah pergi ke Bangkok kok gak sekalian mampir ke Pattaya? rugi dong hahaha.”

Itulah pertanyaan yang jauh sudah pernah kami dengar sebelum terbang ke Bangkok. Oleh karena itu kami pun tidak ingin ketika sudah pulang ke Indonesia nanti terus tiba-tiba ada yang  nanya “wah baru liburan dari Thailand? ada mampir ke Pattaya gak?” terus dengan nada lemes jawabnya “gak” atau “gak sempat” hahaha. So kami pun memutus kan untuk pergi ke Pattaya selama 2 hari. (baca juga tentang Bangkok di sini).

Soal transportasi? jangan khawatir sudah ada uncle Phin (pemandu kami) yang mengatur segala keperluannya. Ini kelebihan kalau kita pakai pemandu wisata seperti ini. Kita tidak perlu pusing soal transportasi ataupun tiket masuk ke acara tertentu. Kek liburan bersama om jin, tinggal ngomong besok mau kemana atau besok mau liat apa eh langsung beres deh. Sekedar info ini bukan ikut tour ya, tetapi hanya pakai pemandu wisata aja jadi tidak terikat dengan suatu perusahaan dan kerja sama dengan toko tertentu sehingga kita tidak perlu ke toko madu, toko perhiasan, ataupun toko-toko lainnya yang kurang berfaedah untuk kita.

 

1. Sriracha Tiger Zoo

Perjalanan dari Bangkok menuju Pattaya ditempuh kurang lebih 2 jam. Di tengah perjalanan kami pun mampir makan siang di kebun binatang Sriracha, yah itung-itung liat binatang lah hahaha. Pas waktu makan siang itu di restorannya nyediain 2 makanan “luar biasa”. Mau tau apa makanan itu? jeng jeng ini dia.

Sate Buaya dengan taburan wijen.

Sate buaya mmm….awalnya ragu banget dong pastinya pas mo nyobain. Setelah masuk kemulut yang pertama kali dirasain adalah teksturnya yang keras dan terasa seperti karet gitu. Menurut saya rasa dangingnya tuh gak ada, jadi hanya terasa hambar dan ada terasa sedikit manis dari bumbu yang membuat satenya berwarna merah.

Kalajengkin yang disajikan bersama campuran bubuk garam, merica dan lada.

Kalau yang satu ini sih jujur gak berani coba. Meskipun belum pernah mendengar ada kasus orang meninggal karena mengkonsumsi kalajengking, tapi tetap saja hewan ini pada dasarnya beracun. Inilah yang mendasari orang tua kami marah dan panik saat mengetahui salah seorang sepupu saya memesan hidangan mengerikan itu. Kemudian tadaaaaa 2 ekor kalajengking “manis” sudah bertengger di atas piring. Bentuknya sama sekali tidak membangkitkan selera makan. Setelah saya menayakan kepada sepupuku yang berani untuk mencobanya, dia bilang rasanya seperti udang hahaha.

Setetelah perut terisi kami pun bergegas masuk ke dalam kebun binatang. Sasaran tujuan kami yang pertama adalah melihat atraksi hewan. Sebenarnya menurut saya pribadi tidak begitu tertarik untuk mengunjungi kebun binatang suatu negeri entah itu dalam negeri maupun luar negeri. Sebenarnya saya lebih tertarik ke tempat-tempat wisata sejarah dibandingan shopping apalagi kebun binatang, akan tetapi karena liburan kali ini yang ikut banyak orang ya gak mungkin dong memaksakan kehendak sendiri. Lagian kedua orang tua saya dan orang tua sepupu saya tampaknya senang dengan kebun binatang ini.

Lanjut ke pembahasan atraksi hewan (harimau & gajah) , nah di atraksi hewan kali ini sudah bisa ketebak dong hewannya bakal ngapain? yap tepat sekali! hewan tersebut bakal lompat di atas jembatan, melewati lingkaran api, menghitung, melempar dart dan berjalan dengan kedua kaki. Sepertinya tidak berbeda dengan pertunjukan yang disuguhkan kebun binatang taman safari. Menurut saya ini membosankan tetapi rasanya orang tua kami tetap terkesan dan takjub dengan pertunjukan barusan.

Pawang harimau sedang beraksi.

 

5 Ekor gajah sedang memegang ekor gajah lainnya.

Pentas harimau dan gajah telah usai, kami pun pindah ke salah satu tempat atraksi hewan yang menjadi jagoan di Sriracha ini. BUAYA! inilah yang pertama saya lihat saat akan memasuki gedung atraksi yang lumayan cukup besar (meskipun tidak sebesar di kedua gedung atraksi sebelumnya). Di tengah gedung terdapat dinding kaca setinggi 2 meter mengelilingi buaya beserta pawang-pawangnya.

Atraksi pun dimulai, dengan rasa deg-degan saya pun memberanikan diri untuk melihat pertunjukan ini. Melihat sang pawang tanpa rasa ragu memasukan kepalanya ke dalam mulut buaya membuat nafas ini seakan berhenti buat sementara waktu. Sempat terbayang bagaimana jadinya ya kalau buaya itu langsung menutup mulutnya? tengkorak pawang itu pastinya akan remuk. Sebelumnya saya sih sudah pernah melihat pertunjukan yang persis semacam ini di youtube tetapi dengan versi kepala sang pawang terjepit di mulut buaya itu.

Gerakan cepat buaya tidak dapat diprediksi hingga tak jarang kami melihat bagian tubuh sang pawang hampir saja tergigit. Buat kalian yang memang mencari foto-foto instagramable di tempat ini dengan cukup menyesal aku mengatakan TIDAK ADA spot cantik disini karena memang tempat ini hanya menampilkan atraksi-atraksi hewan saja, so saya sih tidak merekomendasikan tempat ini.

 

Check In di Hotel

Setelah puas berkeliling di kebun binatang kami semua pun memilih untuk pulang dan langsung check in di A One Royal Cruise Hotel. Bukan bukan, ini bukan di kapal melainkan hotel yang didesain sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk kapal. Begitu masuk terlihat petugas hotel berkostum sailor berlalu-lalang. Interior hotel pun membuat kita seakan-akan sedang berada di dalam kapal. Desain pegangan kapal di lorong kamar pun mempercantik hotel. Tak hanya interior hotel tetapi juga di dalam kamar tidur juga masih bertemakan kapal. Cermin berbentuk pelampung kapal pun tampak tergantung serasi di dinding ruangan kamar yang berwarna biru.

Pemandangan pantai Pattaya dari atas hotel.

 

Hotel ini mengingatkan saya dengan Pacific Hotel di Batam (sama-sama bertema kapal).

 

Desain kamar yang bertemakan ruangan di kapal.

 

2. Ladyboy Cabaret Show

“habis ini kita mau kemana?mau nonton ladyboy show gak?” tanya uncle Phin.

hmmm tunggu sebentar, ladyboy show? aha saya pernah browsing tentang show itu di internet sebelum berangkat ke Thailand. Langsung saja saya dan para sepupuku mengiyakan tawaran dari uncle Phin itu. Sebenarnya ada beberapa ladyboy show bertema cabaret di Pattaya ini, tetapi uncle Phin menyarankan untuk menonton cabaret show kepunyaan Alcazar karena ini yang paling terkenal (karena ladyboy nya lebih cantik dibanding yang lainnya).

Para penari ladyboy dengan luwes membawakan tarian tradisional Korea

Pertunjukan pun dimulai, penonton pun dihibur dengan penampilan-penampilan ladyboy cantik yang dengan luwesnya menari dan melakukan lipsync. Melihat pertunjukan yang seperti ini saya pun merasa terhibur bagaimana tidak? pertunjukan seperti ini tidak akan bisa disaksikan di Indonesia. Setelah pertunjukan selesai para ladyboy pun akan berdiri menyebar di halaman luar gedung untuk melayani para penonton untuk berfoto. Eitsss tunggu dulu ini tidak gratis! kita harus membayar kepada ladyboynya kalau ingin berfoto (lupa tarifnya).

Cantik-cantik kan ladyboy di Alcazar ini? jangan salah fokus ya hihihi.

 

Para ladyboy sedang melayani pengunjung.

Kecantikan ladyboy Thailand memang sudah diakui dunia. Tidak bisa dipungkiri lagi postur tinggi, badan lansing dan wajah cantik  menjadi pesona tersendiri bahkan melebihi pesona wanita asli hahaha. “Wah berarti gak ketahuan dong yang mana wanita asli?”. Tenang masih bisa ketahuan kok, ada satu cara untuk mengetahui dia ladyboy atau bukan. Cek aja suaranya hahaha meskipun berpenampilan layaknya wanita pada umumnya tetapi suara para ladyboy Thailand ini tetap nge-bass kok.

Matahari sudah kembali ke peraduannya , perutpun sudah merengek minta diisi. Orang tua kami pun memutuskan untuk makan malam di hotel saja karena mereka belum istirahat dan capek akibat perjalanan jauh tadi pagi. Inilah repotnya kalau traveling bersama orang tua. Tidak bisa disalahkan, faktor usia memang menjadi penyebab utama nya. Kalau anak muda 17-35 tahun mungkin tidak akan berasa capek, tapi lain ceritanya kalau umur 35 tahun ke atas. Disaat kita masih mau pergi ke tempat lain mereka udah kelelahan.

“Baterai” terisi penuh ternyata orang tua kami di ajak oleh uncle Phin untuk menonton “Tiger show“. Berbeda dengan tiger show di Sriracha, tiger show yang ini adalah pelesetan untuk pertunjukan adegan dewasa vulgar (you know what i mean). Sebenarnya sih saya bisa ikut tetapi tidak tertarik, lagian ada adik sepupu yang berumur 17 tahun. Dia juga bisa ikut sih seharusnya karena udah 17 tahun, tapi takutnya pas sampai di sana batas minimal umurnya 20 tahun gimana coba?masa dia bengong sendirian di luar?

So saya, adik, dan kedua sepupu (all boys) memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir pantai Pattaya.

 

3. Red Light District

“Yuk jalan-jalan ke red light district mau gak?” ujar Tommy sepupu saya.

Sempat saya jawab dengan ragu apakah bakal aman kalau kita berjalan masuk ketempat seperti itu? tapi entah kenapa rasa penasaran ini lebih besar daripada rasa takut , sehingga kami bertiga pun mengiyakan. Kami pun masuk ke salah satu lorong di pinggiran jalan poros. Tidak ada lampu jalan yang menerangi lorong itu, hanya ada cahaya lampu neon dari penginapan “plus-plus” dan kafe remang-remang di sepanjang lorong. Melihat keadaan yang memungkinkan saya pun menyalakan kamera untuk merekam pemandangan itu secara diam-diam.

Para wanita sedang menunggu pelanggan.

 

Konten dewasa…tuh kan apa yang saya bilang? mereka gak sungkan buat melakukan kontak fisik dengan turis

 

Bar dan “hotel” tersebar di sepanjang lorong.

 

Ngeliatin siapa neng?

Para gadis tampak berkumpul dan berjoged di depan kafe menunggu pelanggan. Kalau udah deal langsung cuss deh ke penginapan terdekat. Mereka pun tidak segan untuk menghampiri dan menarik tangan atau bahkan memeluk wisatawan yang tidak sengaja lewat atau pun yang sengaja lewat dilorong itu seperti kami. Ada yang perlu di ingat kalau tidak semua wanita disini mempunyai fisik dan wajah yang cantik ya, karena sepanjang pengamatan kami hanya beberapa saja yang terlihat seperti wajah bintang film Thailand.

Satu tips ketika kalian memutuskan untuk mencoba melihat-lihat daerah prostitusi seperti ini, apalagi kalau kalian sudah punya pasangan. Jangan takut! kalau tidak ingin digoda oleh wanita-wanita itu, langsung saja jalan dengan menggandeng pasangan kalian. Dijamin! wanita-wanita itu tidak akan menggoda kalian haha. Oh iya tempat ini  juga pastinya sangat tidak disarankan untuk anak-anak di bawah umur.

Ada cerita lucu saat saya melewati lorong itu. Ketika ada satu wanita yang kira-kira berusia 30 tahun memegang pundak dan berusaha menggoda saya, dan secara reflek saya menepis tangannya dan kemudian wanita itu memukul pundak saya (tidak sakit tetapi suara yang ditimbulkan cukup keras). Melihat kejadian itu saya kemudian ditertawakan oleh adik dan kedua sepupu saya. Adik dan kedua sepupu saya juga tidak luput dari tangan-tangan nakal mereka.

Pantai yang berada persis di depan hotel kami.

 

Aktivitas di pantai Pattaya yang sudah terlihat ramai di pagi hari.

 

Situasi di sekitaran hotel pada pagi hari.

Hari terakhir saya di Pattaya di tutup dengan mampir ke toko oleh-oleh (biar nanti di Bangkok gak usar ribet buat beli oleh-oleh lagi). Buat yang gak bisa bahasa Inggris atau bahasa Thailand tenang aja karena rata-rata penjaga toko oleh-oleh di Thailand dapat berbahasa Indonesia walaupun tidak lancar sih. Kami pun masing-masing keluar dari toko dengan tangan penuh dengan dos besar.

Banyak hal yang dapat saya petik dari Pattaya. Bukan hanya Pattaya, melainkan seluruh Thailand. Di sini saya dapat melihat bahwa LGBT diperlakukan secara manusiawi di negara ini, tidak perduli bagaimana pun rupamu akan tetapi semua orang lebih mementingkan isi hatimu. Bukan ingin membandingkan dengan di Indonesia tapi, coba lihat di negara Indonesia ketika para LGBT dicaci, dimaki, di jauhi atau bahkan di perlakukan secara diskriminatif dan tidak berprikemanusiaan. Thanks Thailand for giving me some precious lessons of life. Mungkin next time menarik kali ya kalau saya bakal nulis dan bahas hal-hal serius seperti LGBT ini?.

Advertisements
Categories:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s