Bersantai Ala Bule di Pulau Bali

Bulan Februari menurut orang-orang adalah bulan yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta. Percaya? percaya dong, bagaimana tidak? “proposal” liburan ke Bali bersama dengan teman-teman saya telah disetujui oleh kedua orang tua. Rasa bahagia sudah tentu saya simpan rapat-rapat di dalam hati biar tidak terlihat mencolok. Enam bulan sudah saya tidak bertemu dengan teman-teman yang berada di kota Palu, sejak saya memutuskan untuk pindah ke kota Kendari untuk tinggal bersama dengan kedua orang tua.

Pertemuan terakhir dengan mereka adalah bulan Agustus saat trip ke Bandung tahun lalu. Hari yang ditunggu telah tiba, saya pun sudah membeli tiket dengan tanggal dan waktu yang ditentukan agar kami dapat bertemu di Makassar dan melanjutkan penerbangan bersama-sama ke pulau Bali. Siang itu pesawat mendarat mulus di bandara International Sultan Hassanudin Makassar. Sudah terlihat jelas antrian panjang mengular di konter transit untuk penukaran tiket ke tujuan selanjutnya.

Panggilan pesawat tujuan Denpasar telah diumumkan. Perjalanan 1 jam 30 menit pun tidak terasa karena saya ketiduran. Sinar matahari yang menyilaukan membuat saya terbangun 15 menit sebelum pesawat mendarat. Perpaduan warna jingga matahari  yang hampir terbenam memantul cantik di tebing-tebing tinggi dihiasi dengan ombak yang menari-nari di bagian bawahnya.

Pesawat telah mendarat, gapura khas Bali dengan motif pepatraan yang terukir cantik di sisi-sisi nya menyambut kami. Bukan Bali dong namanya kalau kita gak mencoba pergi ke beachclub dan mencoba liburan serta bersantai ala bule. Kedatanganku ke Bali kali ini saya mencoba pergi ke 3 tempat beach club. So the first beach club is…..

Taman Satria Gatotkaca.

 

  • Mrs Sippy

Sinar matahari yang cukup menyengat ala Bali rupanya menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan sehingga saya melihat banyak wisatawan (lokal maupun mancanegara) menggunakan baju layaknya musim panas dengan potongan lengan pendek dan berbahan tipis serta tidak ketinggalan celana pendek dan juga sandal jepit.

Setelah perut terisi penuh, sehabis makan siang kami pun berpindah tempat ke Mrs. Sippy salah satu beach club di Seminyak. Teman-temanku berencana untuk berenang, tetapi saya dan kedua teman yang lain memutuskan untuk tidak ikut menyemplungkan diri ke air dengan alasan malas buat membilas diri. Untuk masuk ke Mrs. Sippy ini kita di haruskan untuk menbayar Rp. 100.000 dan kemudian ditukar dengan kupon bernilai sama dan dapat ditukarkan dengan minuman atau makanan.

Menunggu teman (yang lain) sedang berenang tidak terasa membosankan karena musik dj dengan beat cepat terus dimainkan untuk menghibur pengunjung dan pemandangan beberapa bule dengan berbagai macam model pakaian renang berlalu lalang.

Kelapa muda yang selalu tepat jadi teman bersantai.
Pengunjung yang sedang bercerita di pinggir kolam.

Ada satu wahana yang tidak dilewatkan pengunjung yaitu tempat untuk loncat ke kolam renang (saya tidak tahu namanya). Terlihat cukup asik menurut saya, tapi tidak untuk yang mempunyai ketakutan berlebihan terhadap ketinggian.

Salah seorang teman dan sepupuku yang mencoba terjun dari ketinggian.

 

  • Potato Head Beach Club

Sore itu kami memacu kendaraan kami untuk berburu sunset di Potato Head (sebut saja pohe). Menurut temanku sunset di pohe ini lebih cantik dan tempatnya juga cukup cozy. Beruntung saat kami sampai matahari belum terbenam kamipun menyempatkan diri untuk berfoto di pinggir pantai dan bermain-main air. Pohe ini hanya seperti pantai biasa ya? apanya yang spesial?

Menikmati sunset di Potato Head.

“pohenya ini ya?” tanya saya.

“bukan yang ini oncom, tapi yang itu tuh” jawab teman saya sambil menunjuk anak tangga yang berada tidak jauh dari tempat kita berdiri.

Ternyata oh ternyata pohenya bukan disini tetapi di atas sana to. Maklum selama tiga kali saya pergi ke Bali, baru kali ini mampir ke tempat-tempat hits anak muda seperti ini. Ramainnya pengunjung yang datang membuat kami semua harus menunggu dan berdiri untuk mendapatkan tempat. Ada dua tempat yang saya lihat disini, yaitu lesehan beralaskan kain layaknya piknik ala-ala di taman tanpa minimum pembelanjaan (tetap harus beli ya nanti kalian di usir) dan dipan empuk depan kolam dengan minimal tarif pembelanjaan Rp.500.000 .

Kedua tempat ini full sehingga mata semua pengunjung dituntut harus jeli. Tidak terkecuali kami, begitu ada yang angkat kaki dari tempatnya kami pun langsung dengan sigap mengambil tempat itu. Tempat yang kami dapat adalah lesehan kain.

Sebaiknya mengambil tempat di paling depan supaya tidak teganggu saat melihat sunset.
Sohib setia dalam pengambilan foto.

Pertama kali melihat, saya berpikir kalau kain biru yang “gede’ ini rasanya tidak akan cukup menampung pinggang raksasa kami. Ya benar saja, kami pun harus bergantian untuk nyender sehingga melihat sunset pun terasa kurang nyaman. Apalagi dengan ramainya pengunjung yang berlalu lalang, hilang sudah suasana ketenangan romantis menonton matahari terbenam.

Eh tunggu dulu, ternyata tidak! sinar jingga cantik menembus daun-daun pohon kelapa begitu memikat sehingga pohon kelapa menjadi siluet-siluet yang luar biasa romantis. Pemandangan indah itu begitu membawa ketenangan sehingga saya pun sudah tidak lagi mempedulikan hiruk pikuknya suasana pohe. Terlalu terbawa dengan asiknya suasana, kami pun bercengkrama hingga jam 9 malam  dan lupa bahwa kami belum makan malam.

Sunset di Bali rasa Malibu.

Tips buat kalian yang mau ke pohe ini dan melihat sunset saran saya adalah memilih tempat dipan empuk di depan kolam supaya sunsetnya gak kehalang orang yang berlalu lalang. Selain karena lebih empuk, tempatnya juga lebih besar sehingga minimal pembelian RP.500.000 tidak terasa berat, apalagi kan bisa muat banyak orang.

 

  • Omnia Dayclub

“Omnia apaan sih?” itulah pertanyaan yang terlontar dari mulut saya saat temanku mengatakan bahwa hari ini kita akan pergi ke suatu tempat di pinggir tebing bernama Omnia di daerah Pecatu. Katanya sih tempat hits gaul yang masih terhitung baru di Bali. Dari hotel menuju Pecatu cukup jauh dan lama, jalanan juga semakin berkelok dan mengecil ketika kita sudah memasuki jalanan setapak di pinggiran jalan raya poros Uluwatu Pecatu.

Akhirnya kami sampai di Omnia tempat hits pinggir tebing yang dikatakan temanku. Dari tempat parkir kami harus berjalan kaki (kurang lebih 100 meter) untuk sampai di pintu masuk. Sebelum masuk tas kami pun diperiksa satu per satu. Setelah masuk, wahhh ini dia beach club terbaik dari yang sebelum- sebelumnya. Pondok-pondok elit terlihat di berbagai sudut dan ada beberapa belas dipan empuk di pinggir kolam. Saya menyebutnya pondok elit karena ini berbeda jauh dengan pondok yang berada di pinggir pantai. Menurut saya bentuknya terlihat seperti tempat bersantai raja di film-film romawi kuno. Pilar-pilarnya berdiri kokoh membentuk kotak dihiasi dengan tirai krem serta sofa dan meja di tengahnya.

Numpang foto dulu di pondok elit haha.

Hampir semua tempat terisi penuh tetapi tidak seramai di pohe. Karena kami “trauma” dengan tempat lesehan kecil beralaskan kain biru seperti di pohe, kami pun bertanya kepada pelayan yang ada.

“mbak kalau duduk di dipan itu berapa ya?” tanya teman saya

dan pelayan itu menjawab “oh kak, kalau dipan yang itu minimal pembelian 2 sampai 3 juta.”

WHHAATTT? 2/3 juta? tentunya rasa kaget ini kami sembunyikan dan tetap berekspresi dengan normal hingga si pelayan berkata

“kalau yang tidak ada minimum charge nya ada di bagian sana kak” sambil menunjuk ke bagian bar tepat di bawah bangunan kubus raksasa berwarna silver yang terhubung dengan sebuah jalan mirip jembatan. Sudah tentu kami memilih tempat yang itu. Kami pun diantar menuju tempat duduk tinggi dengan meja bundar di tengahnya. Sinar matahari begitu terasa menyengat di kulit apalagi seperti yang kita tahu tentunya matahari di pinggiran pantai terasa lebih panas.

Sensai berenang di pinggir tebing yang langsung menghadap Samudera Hindia

Tempat duduk tanpa minimum pembelanjaan ini sama sekali tidak mempunyai penutup di atasnya, kecuali payung-payung yang terletak tidak jauh dari meja kami dan tetap sama sekali tidak melindungi kami dari sinar matahari. Daripada cuma duduk melihat orang-orang, saya mengajak salah seorang teman untuk berfoto-foto. Selain untuk melihat-lihat tentunya untuk menghindari meja “neraka’ itu.

Bar yang tepat berada di bawah bangunan kubus silver.

Kami pun mengambil foto di pinggir tebing. Pemandangan langsung Samudera Hindia tentunya menjadi sangat juara di sini. Dari atas kita dapat melihat deburan ombak yang cantik menghantam dinding tebing. The best view ever selama aku pergi ke Bali, sungguh tidak bisa diungkapkan.

Indian Ocean waves.

Menurutku pengunjung di Omnia ini hampir semuanya datang hanya untuk berfoto (kecuali para bule ya, karena mereka murni untuk berenang dan berjemur). Terlihat jelas dari pakaian khas ootd yang dikenakan.

Pengunjung tengah asik bersantai di salah satu sudut pool bar.

Tidak ada hal yang sempurna begitu juga Omnia ini. Sekali lagi ya ini berdasarkan pendapat saya sendiri. Misalnya payung-payung yang tidak didesain di tengah meja sehingga pengunjung yang duduk pun bisa terlindungi dari panasnya matahari. Atau sebaiknya didesain sedemikian rupa supaya pengunjung tidak terlalu kepanasan karena jujur di sini super duper hot.

Pemandangan langit sore di Omnia yang menenangakan.

Ada satu kejadian yang menurut saya lucu dan menyebalkan (lebih banyak perasaan sebalnya sih) serta menjadi kekurangan di Omnia ini. Ketika saya ingin memesan sebuah kelapa muda utuh, si pelayan berkata bahwa kelapanya tidak bisa dikerok dagingnya karena kelapa itu hanya dibuat lobang kecil untuk sedotan saja. Hah? beli kelapa muda terus dagingnya gak bisa di kerok? gila aja udah bayar mahal terus cuman buat air kelapa doang. Kemudian saya bilang ke pelayannya untuk dibuatkan lubang yang lebih besar dia pun berkata tidak bisa. Sangat berbeda dengan kelapa muda di Mrs Sippy padahal harganya sama.

Aku pun mengganti pesananku dengan sparkling water karena botol air putih saya di ambil oleh security di depan tempat pengecekan tas. Kemudian si pelayan berkata dengan nada bercanda sekaligus menyindir “lho kak kok sampe sini cuma pesan air putih doang? pesen jus lah kak haha”. Mendengar kata-kata pelayan itu saya pun merasa sedikit malu sehingga memesan jus padahal, harga antara jus dan sparkling water hanya selisih 5000 rupiah. Ya Ialah saya memilih air putih, minum jus itu segernya sebentar doang sisanya haus karena gula.

Nyesel banget dah gak ngomong ke pelayan itu “siapa suruh kelapanya gak bisa di lobangin agak gede?” emosi banget kalau ingat itu. Udah harga mahal terus pas dateng minumannya hanya di gelas plastik (bukan sekali pakai) dengan print Omnia di badan gelasnya. Sekelas Omnia terus minuman nya hanya di gelas plastik? okayy cukup tau aja, minimal di gelas kaca gitu kek kan enak dilihat masa kalah sama warung kopi di pinggir jalan?

Foto dulu ah sebelum balik haha.

Yap itu dia ulasan dari 3 beach club yang saya datangi selama di pulau Bali. Kalau soal mana yang terbaik sih saya lebih memilih Potato Head karena harga lebih terjangkau dan lebih cozy. Kalau untuk Omnia sih menurutku hanya cocok buat foto-foto atau melihat pemandangan saja, tapi kalau untuk bersantai…hmmm rasanya cukup memeras kantong soalnya mahal lihat saja dipannya 2/3 juta. Nah lain lagi kalau kalian masih muda yang mempunyai jiwa have fun dan partynya tinggi sangat di sarankan ke Mrs. Sippy nih karena selain ada tempat loncat ke kolam yang seru, ada juga lagu lagu berbeat cepat yang siap dimainkan oleh dj.

Bagaimana? tertarik untuk liburan santai ala bule di Bali?

Advertisements
Categories:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s