Tanjung Karang Pantai Indah Yang Tidak Tergantikan

Tawaran dari salah satu teman saya untuk pergi ke pantai Tanjung Karang langsung diiyakan oleh saya dan seorang lagi teman saya. Akhirnya dua hari sebelum kepulangan ke Kendari saya dapat melihat pantai. Bagi masyarakat kota Palu tentunya sudah tidak asing lagi dengan nama pantai ini. Jarak yang tidak begitu jauh yang hanya kurang lebih satu jam saja, membuat pantai ini menjadi tempat pelarian yang cocok untuk melepas penat serta rasa bosan.

Kami pun hampir sampai di Tanjung Karang ketika mobil yang kami tumpangi sudah memasuki kota Donggala. Donggala kota yang katanya bekas ibukota Sulawesi Tengah ini dulunya dikenal dengan kota pelabuhan dan perdagangan, akan tetapi sekarang sudah tidak seramai dulu. Terlihat dari kurangnya penduduk dan banyaknya pintu rumah yang digembok dari luar. Bangunan rumah di kota ini rata-rata terlihat jadul, hanya beberapa rumah saja yang sudah berbentuk modern.

Sampan kecil di atas birunya air laut

 

Jadi pengen nyemplung ya?

 

Panasnya matahari menyambut saya saat turun dari mobil padahal saya sebenarnya lebih berharap disambut oleh karpet merah. Rasa lega begitu terasa ketika saya terbebas dari sempitnya duduk di kursi belakang dengan lutut yang tidak bisa digerakkan. Jernihnya air laut langsung mengingatkan saya saat pertama kali datang kesini ketika masih berada di bangku sekolah dasar. Entah acara apa (yang pasti bukan arisan) yang membuat saya beserta teman dan guru-guru datang kepantai ini. Pantai yang tidak banyak berubah, hanya saja cottage semakin banyak dibangun sehingga terkesan sangat padat. Oh iya jangan lupa untuk memakai tabir surya ketika datang ke pantai terutama saat siang hari, karena panasnya matahari dapat membuat kulit terkelupas dan perih kecuali kalau kalian memang ingin memiliki kulit eksotis seperti chef Farah Quinn.

Pasir putih yang lembut langsung dapat saya rasakan masuk di sela-sela jari kaki ketika saya melepas sandal. Sudah lama rasanya saya tidak merasakan lembutnya pasir pantai semenjak saya tinggal di Kendari. Kami pun menyewa beberapa cottage untuk duduk bersantai. FYI ini adalah acara kantor dari ayah teman saya, sehingga boleh dikata saya adalah pengunjung gelap.

Saya dan teman mencoba berfoto candid

 

Foto ala-ala dulu.

 

Tak ingin membuang waktu, kami pun langsung mengambil ponsel masing-masing dan berfoto-foto. Panasnya matahari akhirnya mengalahkan semangat kami untuk berfoto-foto dan menikmati segarnya air laut. Kami pun memilih duduk di sebuah pondok kecil di depan laut sambil bercengkrama hingga seorang anak pun datang dan berkata

“maaf kak ini disewakan”.

Sontak kami pun langsung angkat kaki dan tersenyum malu. Sebenarnya saya sudah tahu bahwa pondok itu disewakan tetapi saya berlagak santai saja karena pantai ini sangat sepi. Bagaimana tidak? ketika itu hanya ada grup kami saja yang berada di pantai bagian sini sehingga saya merasa fine saja untuk duduk di pondok itu

Lihat apaan bang?

 

Berfoto dengan latar belakang dinding karang.

 

Ada satu hal yang membuat terkejut pada kedatangan saya kali ini di Tanjung Karang adalah adanya beberapa orang yang menawarkan telur penyu hal itu tentu saja membuatku kesal dan berpikir kurangnya edukasi serta kepedulian terhadap lingkungan dan satwa yang dilindungi menjadi penyebabnya. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa semua penyu yang ada di Indonesia itu dilindungi sehingga perdangangan penyu baik anggota tubuh ataupun telur itu ilegal. (kalian bisa baca tentang pentingnya pelestarian penyu disini).

Tidak kalah dengan jernihnya laut di Maldives.

 

Pantai Tanjung Karang ini juga menyediakan beberapa hiburan yaitu banana boat, donut boat dan kapal yang akan mengantar kita berkeliling-keliling pantai. Tinggal pilih ingin yang mana dan jangan lupa buat menggunakan jurus menawar ya biar harga yang didapat lebih murah. Saya pribadi lebih menyukai naik kapal, selain dapat berfoto-foto kita juga dapat melihat ikan-ikan lucu dari atas kapal. Kalau lapar sehabis berenang jangan takut karena banyak penjual makanan yang tersebar di tempat ini, mulai dari pisang goreng sampai ikan bakar dapat kita jumpai dengan mudah asal jangan cari western food ya, dijamin gak bakal ada walaupun kalian punya duit segudang.

Pemandangan bukit hijau dari atas kapal

 

Airnya cakep kan? ini foto Tanjung Karang yang saya ambil bulan April tahun 2017.

 

Melihat sepinya pantai ini membuat saya berpikir mungkin munculnya pantai-pantai baru  seperti pantai Kaluku, Labuana dan pantai lainnya menjadi penyebabnya. Tetapi Tanjung Karang adalah pantai yang menyimpan kesan tersendiri bagi saya. Sudah tidak tehitung lagi berapa kali saya menginjakkan kaki disini dan herannya tidak ada rasa bosan bagi saya untuk tetap terus datang ke tempat ini. Hijau dan birunya air laut membentuk gradiasi warna yang menakjubkan dan menimbulkan kesan damai serta segar. Setiap kali ada yang menanyakan kepada saya pantai apa yang terkenal di kota Palu, jawaban saya selalu sama yaitu Tanjung Karang.

Advertisements
Categories:

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s