Wangi Dupa di Petak Sembilan

“Tuh temenku bilang di petak sembilan ada orang bisa manggil arwah leluhur tapi gak tau di bagian mana”. Begitulah kata papa kepada kami semua. Dengan niatan itu kami pun berangkat ke daerah petak sembilan. Karena kami semua tidak tahu tempat yang pasti tentang keberadaan orang itu, maka saya pun bernisiatif memilih untuk turun di Vihara Dharma Bhakti atau Jin De Yuan. Vihara yang dibangun pada tahun 1650 oleh letnan Guo Xun-Guan dengan nama Guan Yin Ting menjadikan bangunan ini sebagai Vihara tertua yang berada di kota Jakarta dan telah menjadi cagar budaya. Sebenarnya saya lebih nyaman menyebut tempat ini sebagai Kelenteng di bandingkan dengan Vihara, karena menurut saya pribadi para umat disini berdoa sendiri tanpa bantuan Romo, Pandita atau Bikkhu. Selain itu perbedaan paling mencolok antara Kelenteng dan Vihara adalah jumlah patung di dalamnya. Kalau Kelenteng biasanya mempunyai banyak patung, tetapi kalau Vihara hanya punya satu atau dua patung Buddha di dalamnya.

Gapura depan Vihara Dharma Bhakti.

Saya pikir petak sembilan itu adalah daerah dengan jalanan besar tetapi ternyata daerah petak sembilan hanya merupakan daerah perkampungan kecil dengan gang sempit. Ketika tiba di depan Kelenteng, beberapa peminta-minta langsung menyambut saya lebih dulu dibandingan gapura Kelenteng model khas Tionghoa dengan tulisan Vihara Dharma Bhakti itu. Tempat ibadah ini tidak asing bagi saya karena setiap perayaan Imlek, setiap stasiun televisi akan menempatkan beberapa reporternya di Kelenteng ini (terutama Metro TV).

Suasana di kawasan pecinan
Salah satu sudut di dalam Kelenteng.
Para peminta-minta yang duduk di sepanjang jalan.

Vihara Dharma Bhakti ini terdiri dari beberapa bangunan kuil, saya pun jujur heran mengapa demikian. Saya belum pernah singgah di Kelenteng yang seperti ini. Kami pun langsung masuk di salah satu bangunan Kelenteng itu dan bertanya kepada salah seorang ibu yang berumur sekitar 35 tahun tentang orang pintar yang kami cari.

“Tidak ada, di sini tidak ada orang yang seperti itu. Mencari arwah seperti itu hanya ada di Cina sana. Kalaupun ada, saya pasti sudah mencari arwah ibu saya.” ujar ibu itu sambil sedikit tertawa kecil.

Sebelumnya kami pun sebenarnya sudah pernah mencoba mencari arwah leluhur saat pergi ke Cina dulu. Makanya, ketika papa berkata di Petak Sembilan ada orang yang dapat memanggil arwah, jujur saya dan mama pun pesimis dan benar saja kepesimisan kami terbukti sudah.

Bangunan kuil di bagian dalam wilayah Kelenteng.
Bangunan kuil kedua.
c00a70c6-06c1-48eb-8d13-d65aa460c035.jpg
Bagian altar di dalam kuil.
Nuansa kuno dan antik khas Tionghoa terlihat jelas.

Tidak ingin pulang dengan tangan kosong, kami pun mencoba utuk bersembahyang di Kelenteng ini. Kami lalu mengambil dupa dan lilin gratis di sebuah rak kecil yang berada tidak jauh dari hiolo raksasa di pelataran utama. Lilin dan dupa telah saya nyalakan kemudian saya tancapkan di hiolo (tempat dupa) raksasa itu. Beruntung kami datang tidak bertepatan dengan perayaan hari besar kelahiran dewa atau pun hari raya agama Buddha, kalau tidak pasti saya sudah terbatuk-batuk dan menangis karena terpapar asap dupa.

Gratis ayo serbu!!!!!
Bagian depan utama Kelenteng.

Di Kelenteng ini saya cukup kesulitan dan binggung untuk bersembahyang  dikarenakan tidak adanya papan nomor penunjuk urutan dewa yang akan di sembahyangi sehingga tidak jarang saya bertanya kepada bapak-bapak paruh baya pengurus Kelenteng yang tersebar di berbagai titik. Sembari menunggu yang lain selesai bersembahyang saya menunggu di depan sebuah ruangan utama yang tertutup. Saya tahu ini ruangan utama karena ruangan ini berada persis di depan hiolo raksasa tempat penancapan dupa yang dipersembahkan kepada Thi Kong/Tuhan dalam kepercayaan orang Tionghoa.

Rupang Buddha dan Dewi Guan Yin yang berjejer rapi.
Umat yang sedang berdoa di altar.
Patung Biksu dengan sentuhan Tionghoa.
Katanya sih patung dewi Guan Yin yang berwarna emas itu ada sejak Kelenteng ini berdiri.

Penasaran mengapa ruangan ini tertutup rapat, saya lalu mencoba mengintip di balik celah-celah ornamen bergambar Qilin hewan mitologi Tionghoa. Saya lalu tertegun melihat bahwa di dalam ruangan ternyata hanya berisi tumpukan-tumpukan kayu dan bahan material bangunan seperti kaleng cat dan tegel. Plafon yang jebol serta tiang-tiang hangus berwarna hitam yang masih berdiri tegak menandakan bahwa tempat ini dulunya pernah terbakar. Benar saja, saya lalu menengadah dan melihat tepat di atas kepala, saya masih bisa melihat penyangga-penyangga kayu yang telah hangus tetapi tidak kehilangan bentuknya.

Ornamen khas Tiongkok yang menghiasi Kelenteng.
Bagian dalam gedung utama sisa kebakaran.
Penyangga kayu yang hangus terbakar.

Saya kemudian bertanya kepada seorang bapak penjaga Kelenteng yang duduk tidak jauh dari saya berdiri. Menurut informasi bapak itu ternyata Kelenteng ini pernah terbakar pada tahun 2015. Sungguh disayangkan beberapa patung bernilai sejarah ikut habis terbakar. Memang menurut saya Kelenteng adalah salah satu tempat yang rawan terbakar, melihat banyaknya lilin-lilin berbagai ukuran yang terus menyala menjadikan bangunan Kelenteng rawan terjadi kebakaran seperti Kelenteng tertua di Banyuwangi yang juga ludes terbakar.

Umat yang khusuk berdoa.

Setelah semua selesai bersembahyang kami lalu beranjak dari Kelenteng cantik ini. Bangunan Kelenteng di Indonesia memang menyimpan berbagai macam cerita sejarah dan masa lalu datangnya leluhur orang Tionghoa di bumi pertiwi ini. Usia Kelenteng yang rata-rata berumur ratusan tahun dan bentuk bangunan yang khas terus menjadi daya tarik tersendiri untuk orang-orang pecinta budaya, sejarah dan religi. Kelenteng di Indonesia bagaikan wangi dupa harum yang terbawa angin, selalu menarik untuk dicari tahu sumber asalnya.

Advertisements
Categories:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s